Monday, January 27, 2014

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA ABAD 20


1.      Model Modernsasi Pendidikan Islam di Negara Muslim
Albert Hourani bermaksud memberikan gambaran tentang bagaimana intelektual muslim di dunia arab mengawali proses integrasi antara masyarakat muslim dan tata duna baru yang muncul sebagai akibat revolusi teknik dan industry di Eropa. Modernasisasi Islam merupakan sebuah gerakan yang berkelanjutan. Merujuk kepada pandangan Hourani, modernisasi pendidikan Islam di wilayah-wilayah muslim berlangung dengan latar belakang intensitas interaksi antara muslim dan barat. Interaksi antara muslim an barat merupakan salah satu factor yang patut diperhitungkan dalam menjelaskan modernsasi penddikan Islam.
Khazanah: Karakter Awal Madrasah
Tradisi pembelajaran dalam islam dimulai dari pembelajaran Al-Qur’an. Bayard Dogde memberikan bentuk-bentuk pembelajaran Al-Qur’an yang berlangsung di kalangan orang muslim. Dalam perkembangannya, beberapa instuisi bermunculan sebagai bentuk institusional tradisi pembelajaran dalam islam, yaitu:
1.      Masjid merupakan instusi penting dalam proses institusionalisasi pendidikan islam.
2.       Madrasah merupakan perkembangan lebih lanjut dan formalisasi dari tradisi pendidikan yang sudah berlangsung dimasjis.
Dapat disimpulkan bahwa madrasah sejak awal perkembangannya di dunia islam memiliki karakter yang disebut sebagai identitas utama, sebagai lembaga pendidikan dengan ilmu-ilmu keislaman sebagai kajian dan Al-Qur’an sebagai porosnya.
Memelihara Khazanah: Modernisasi Madrasah
Madrasah merupakan lembaga pendidikan islam warisan masa lalu yang sepenuhnya diabdikan kepada ilmu-ilmu keislaman. Gerakan modernisasi islam berlangsung dalam konteks yang berbeda dengan gerakan reformasi islam yang berlangsung pada abad ke-18.
Charles Kurzman memberikan beberapa karakter utama gerakan modernisasi islam abad ke-19 yakni adalah muncul dan menguatnya kesadaran untuk mengadopsi nilai-nilai modern dikalangan kaum muslim.
Berkaitan dengan modernisasi pendidikan islam penting disebutkan peranan printing (percetakan) dalam ikut mendorong percepatan modernisasi. Percetakan buku-buku pelajaran serta diseminasi gagasan pembaruan dan modernisasi islam melalui jurnal merupakan dua hal yang saling mendukung gerakan modernisasi pendidikan islam.
Model-model Modernisasi Madrasah
1.      Pengalaman Mesir
2.      Pengalaman Turki
3.      Pengalaman Arab Saudi
2.      Kemunculan Madarasah Modern Indonesia
Sejarah perkembangan madarasah di Indonesia terkait dengan beberapa faktor antara lain pesantren, gerakan pembaharuan Islam dan sistem pendidikan Belanda ini merupakan tiga faktor penting yang secara bersama-sama mempengaruhi kemunculan madarasah modern Indonesia. Madarasah Indonesia merupakan lembaga pendidikan yang sangat dinamis. Interaksi madarasah dengan modernisasi yang berlangsung secara berkelanjutan mendorong munculnya model-model lembaga pendidikan yang khas.
a.    Pesantren
Persantren merupakan lembaga pendidikan Islam paling awal di Indonesia. Lembaga pendidikan ini banyak dijumpai di beberapa wilayah di Indonesia dan di Asia Tenggara. Pesantren yang awalnya hanya sekedar tempat berkumpul, menginap dan beribadah, kini berkembang menjadi pusat penyebaran dan praktik tarekat dan sebagai tempat pembelajaran keislaman tradisional. Pesantren diperkirakan mengalami pertumbuhan pesat sebagai lembaga pendidikan Islam pada abad ke-19. Secara tradisional terdapat dua metode pembelajaran yakni Pertama, santri belajar bersama-sama kepada kiai dalam sebuah pengajian kitab. Kedua, sistem tutorial yang disebut dengan sorogan (seorang santri membaca kitab dihadapan kiai dan kiai hanya memberikan koreksi saja), selain itu musyawarah (diskusi) dan hafalan juga sering digunakan.
b.    Gerakan pembaharuan Islam
Masyarakat muslim awal abad ke-20 merupakan masyarakat yang sedang bangkit, banyak pergeseran dan perluasan orientasi belajar para pelajar Indonesia. Banyak para pelajar Indonesia merasa mendapatkan pengetahuan tambahan dari Kairo (Universitas Al-Azhar) karena selain belajar agama juga belajar politik. Para pelajar Indonesia di Kairo telah terlibat dan memiliki pengalaman dalam kegiatan penerbitan. Oleh sebab itu media masa atau jurnal dan penerbitan memberikan sumbangan besar terhadap tersebarnya gagasan modernisme Islam, karena media masa dan percetakan telah membuka dunia kepada para pembaca. Media masa juga membuka peluang kepada setiap individu untuk menyampaikan gagasannya di ruang publik.
c.    Sistem pendidikan Belanda
Proyek pendidikan pemerintah kolonial Belanda dimulai sekitar pertengahan abad ke-19. Adanya pendidikan Belanda ini membawa implikasi kepada semakin besarnya jumlah kelompok masyarakat terpelajar. Kelompok terpelajar inilah yang memprakarsai gerakan-gerakan sosial dan nasionalisme Indonesia. Pemerintah juga membuka sekolah Guru dan sekolah Dokter, selanjutnya didirikan sekolah tingkat menengah dan disusul sekolah menegah atas.
Eksperimen pendidikan Islam modern berlangsung pada dekade pertama abad ke-20 yang juga merupakan periode kebangkitan nasional bagi seluruh komponen masyarakat di Hindia-Belanda. Madarasah Indonesia muncul sebagai jembatan yang menghubungkan antara lembaga pendidikan umun dan lembaga pendidikan tradisional pesantren. Perjumpaan antara pesantren, madarasah dan organisasi sosial-keagamaan ini yang  menghasilkan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
3.      Lembaga pendidikan islam dan gerakan reformis: muhammadiyah
Howard M. Federspiel memposisikan Muhammadiyah sebagai  gerakan muslim ortodoks di Indonesia. Hal ini didasarkan pada argumen bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi muslim yang memberikan penekanan penting terhadap "keesaan Tuhan" whid), perilaku Islami (akhlaq), dan pelaksanaan doktrin ibadah n mu'amalat ifiqh). Nilai-nilai ortodoksi ini harus menjadi dasar igi kaum muslim dalam menjalankan kehidupan. Organ isasi ini juga endorong pengikutnya untuk setia terhadap kontep ummah (komunitas kaum beriman) karena hanya dalam lingkungan ummah dok-in ortodoksi dapat terimplementasikan. Melihat doktrin keislaman disuarakan dan sebagian tokoh yang dijadikan referensi seperti  Taymiyyah dan Muhammad ibn 'Aijd al-Wahhab.
Muhammadiyah juga dikenal dekat dengan kelompok muslim salafi. Salafi merupakan kelompok muslim yang memandang bahwa kelompok muslim terdahulu yang berarti sahabat Nabi merupakan kelompok muslim utama, yang harus dijadikan contoh dalam beragama. Titik temu Muhammadiyah dengan kelompok muslim Salafi terletak pada promosi gerakan purinkasi ajaran lslam dari praktik-praktik yang dipandang tidak islami.
Para peneliti juga memberikan deskripsi tentang Muhammadiyah sebagai bagian dari gerakan reformis dan modernis Islam di kalangan kaum muslim Indonesia. Gerakan reformis dan modernis merupakan gerakan yang secera terus-menerus bertujuan memelihara bagian dari masa lampau. menjustifikasi masa kini, dan melegitimasi masa depan yang dapat dipahami dan karena itu menciptakan keterkaitan antara "yang lampau. yang lama, dan yang sekarang yang baru". Mereka mendasarkan diri pada argumen bahwa nilai-nilai Islam merupakan komponen terpenting dari setiap reform.

4.      Lembaga Pendidikan Islam dan Reproduksi Ulama Nahdatul Ulama
Pada pembahasan ini akan disampaikan modernisasi pendidikan pesantren di lingkungan NU dan strategi memelihara tradisi sistem pendidikan pesantren berhadapan dengan modernisasi, yang dibagi menjadi tiga bahasan di bawah ini;
Ideologi NU dengan fokus kepada doktrin dasar NU yang menjadi basis dalam merumuskan materi keislaman dalam lembaga pendidikan
Nahdatul Ulama merupakan organisasi muslim tradisionalis terbesar di Indonesia. Didirikan oleh ulama pesantren pada 31 Januari 1926. Nu diperkirakan memiliki pengikut sebanyak 60 juta muslim dengan 30 pengurus wilayah, 339 pengurus cabang, 2.630 majelis cabang, dan 37.125 pengurus ranting tersebar di Indonesia. Oleh karena itu, kedudukan NU sanagt penting diseluruh Indonesia. Tujuan pembentukan NU yang sekaligus menjadi dasar ideologi keagamaannya adalah menjaga dan menyebarkan wacana keagamaan yang berada dalam garis ortodoks di bawah bendera ahl al sunnah wa al-jama’ah.dalam konsepsi Kiai Hasyim Asy’ary, ahl al sunnah wa al-jama’ah dirumuskan sebagai paham keagamaan dalam bidang fiqh mengikuti empat mahzab (maliki, hanafi, syafi’i, hambali)
Modernisasi sistem kelembagaan pendidikan modern, baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah umum
Lembaga pendidikan Islam, pesantren dan madrasah, merupakan media transmisi dan tempat paling efektif untuk menjaga dan memelihara tradisi keagamaan NU. Kalangan pesantren melakukan sejumlah penyesuaian untuk mendukung kontinuitas pesantren dan bermanfaat bagi para santri.terdapat dua elemen dalam sistem pendidikan modern dan mendapat alokasi dalam lingkungan pesantren. Pertama, sistem kelembagaan madrasah, sebuah sistem pendidikan yang berjenjang dan klasikal, penerapan sebuah kurikulum dan jadwal pelajaran, penyelenggaraan ujian, kelulusan, dan ijazah, terkadang yang dilegalisasi negara seabgai tanda lulus. Kedua, masuknya materi pengetahuan umum dan sekuler sebagai bagian dari bidang kajian santri.
Pada periode setelah penjajahan, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam alternatif disamping madrasah negeri dan swasta. Merespon perkembangan ini, semakin banyak pesantren yang mendirikan madrasah di dalam kompleks pesantren masing-masing. Dengan cara ini, pesantren tetap berfungsi sebagi pesantren dalam pengertian aslinya, yakni tempat pendidikan dan pengajaran bagi para santri yang ingin memperoleh Islam secara mendalam sekaligus menawarkan lembaga pendidikan formal madrasah kepada santri. Dengan terdaftar sebagai murid madrasah, mereka kemudian mendapat pengakuan dari Departemen Agama dan dengan demikian memiliki akses lebih besar tidak hanya untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga dalam dunia kerja. Beberapa pesantern  bahkan bereksperimen mendirikan lembaga-lembaga pendidikan umum yang berada di bawah sistem Departemen Pendidikan; bukan sistem pendidikan agama yang di bawah Departemen Agama. Dengan kata lain, pesantren bukan hanya mendirikan madrasah, tetapi juga sekolah umum yang mengikuti sistem dan kurikulum Departemen Pendidikan. Pesantren perintis dalam eksperimen ini adalah Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang.
Madrasah-Pesantren “NU-Based Culture” dan Reproduksi Ulama
Transformasi pesantren tidak menghapus seluruh ciri khas pembelajaran di pesantren. Transformasi dipandang sebagai perluasan sistem pembelajaran di pesantren. Karena memiliki misi sebagai tempat “pendidikan kader”, madrasah di lingkungan pesantren menjadikan tradisi NU sebagai basis (NU-based culture) memiliki beberapa ciri penting. Pertama, madrasah memiliki kurikulum sendiri hasil kombinasi kurikulum Departemen agama dengan kurikulum pesantren. Kedua, buku-buku standar pesatren yang dikenal sebagai kitab kuning tetap digunakan sebagai rujukan dalam materi keislaman madrasah. Ketiga, materi ke-NU an ahl sunnah wa al-jama’ah diberikan disetiap tingkatan, baik tingkat dasar,tingkat menengah, dan tingkat menengah atas,termasuk perguruan tinggi. Keempat, madrasah tersebut sebagian mengikuti “ujian negara” dan sebagian lagi menolak. Hal tersebut dikarenakan disatu sisi ingin mendapatkan legitimasi negara dengan harapan tamatannya memiliki kesempatan pendidikan lanjutan (pro ujian negara), disisi lain ingin mempertahankan ciri khas dan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam independen tanpa campur tangan negara (menolak ujian negara). Perguruan Islam Mathaliul Falah oleh kiai Sahal Mahfudz contohnya yang menolak ujian negara. Sedangkan Madrasah al-Munawwir oleh Kiai Ali Maksum contohnya yang pro ujian negara.