1. Model Modernsasi Pendidikan Islam di
Negara Muslim
Albert Hourani bermaksud memberikan gambaran tentang bagaimana intelektual
muslim di dunia arab mengawali proses integrasi antara masyarakat muslim dan tata duna baru yang muncul
sebagai akibat revolusi teknik dan industry di Eropa. Modernasisasi Islam
merupakan sebuah gerakan yang berkelanjutan. Merujuk kepada pandangan Hourani,
modernisasi pendidikan Islam di wilayah-wilayah muslim berlangung dengan latar
belakang intensitas interaksi antara muslim dan barat. Interaksi antara muslim
an barat merupakan salah satu factor yang patut diperhitungkan dalam
menjelaskan modernsasi penddikan Islam.
Khazanah:
Karakter Awal Madrasah
Tradisi pembelajaran dalam islam
dimulai dari pembelajaran Al-Qur’an. Bayard Dogde memberikan bentuk-bentuk
pembelajaran Al-Qur’an yang berlangsung di kalangan orang muslim. Dalam
perkembangannya, beberapa instuisi bermunculan sebagai bentuk institusional
tradisi pembelajaran dalam islam, yaitu:
1.
Masjid merupakan instusi penting
dalam proses institusionalisasi pendidikan islam.
2.
Madrasah merupakan perkembangan lebih lanjut
dan formalisasi dari tradisi pendidikan yang sudah berlangsung dimasjis.
Dapat disimpulkan bahwa madrasah
sejak awal perkembangannya di dunia islam memiliki karakter yang disebut
sebagai identitas utama, sebagai lembaga pendidikan dengan ilmu-ilmu keislaman
sebagai kajian dan Al-Qur’an sebagai porosnya.
Memelihara
Khazanah: Modernisasi Madrasah
Madrasah merupakan lembaga pendidikan
islam warisan masa lalu yang sepenuhnya diabdikan kepada ilmu-ilmu keislaman.
Gerakan modernisasi islam berlangsung dalam konteks yang berbeda dengan gerakan
reformasi islam yang berlangsung pada abad ke-18.
Charles Kurzman memberikan beberapa
karakter utama gerakan modernisasi islam abad ke-19 yakni adalah muncul dan
menguatnya kesadaran untuk mengadopsi nilai-nilai modern dikalangan kaum
muslim.
Berkaitan dengan modernisasi
pendidikan islam penting disebutkan peranan printing (percetakan) dalam ikut
mendorong percepatan modernisasi. Percetakan buku-buku pelajaran serta
diseminasi gagasan pembaruan dan modernisasi islam melalui jurnal merupakan dua
hal yang saling mendukung gerakan modernisasi pendidikan islam.
Model-model
Modernisasi Madrasah
1.
Pengalaman Mesir
2.
Pengalaman Turki
3.
Pengalaman Arab Saudi
2.
Kemunculan Madarasah Modern Indonesia
Sejarah perkembangan madarasah di Indonesia terkait dengan beberapa
faktor antara lain pesantren, gerakan pembaharuan Islam dan sistem pendidikan
Belanda ini merupakan tiga faktor penting yang secara bersama-sama mempengaruhi
kemunculan madarasah modern Indonesia. Madarasah Indonesia merupakan lembaga
pendidikan yang sangat dinamis. Interaksi madarasah dengan modernisasi yang
berlangsung secara berkelanjutan mendorong munculnya model-model lembaga
pendidikan yang khas.
a. Pesantren
Persantren merupakan lembaga pendidikan Islam paling
awal di Indonesia. Lembaga pendidikan ini banyak dijumpai di beberapa wilayah
di Indonesia dan di Asia Tenggara. Pesantren yang awalnya hanya sekedar tempat
berkumpul, menginap dan beribadah, kini berkembang menjadi pusat penyebaran dan
praktik tarekat dan sebagai tempat pembelajaran keislaman tradisional.
Pesantren diperkirakan mengalami pertumbuhan pesat sebagai lembaga pendidikan
Islam pada abad ke-19. Secara tradisional terdapat dua metode pembelajaran
yakni Pertama, santri belajar
bersama-sama kepada kiai dalam sebuah pengajian kitab. Kedua, sistem tutorial yang disebut dengan sorogan (seorang santri
membaca kitab dihadapan kiai dan kiai hanya memberikan koreksi saja), selain
itu musyawarah (diskusi) dan hafalan juga sering digunakan.
b. Gerakan pembaharuan Islam
Masyarakat muslim awal abad ke-20 merupakan
masyarakat yang sedang bangkit, banyak pergeseran dan perluasan orientasi
belajar para pelajar Indonesia. Banyak para pelajar Indonesia merasa
mendapatkan pengetahuan tambahan dari Kairo (Universitas Al-Azhar) karena
selain belajar agama juga belajar politik. Para pelajar Indonesia di Kairo
telah terlibat dan memiliki pengalaman dalam kegiatan penerbitan. Oleh sebab
itu media masa atau jurnal dan penerbitan memberikan sumbangan besar terhadap
tersebarnya gagasan modernisme Islam, karena media masa dan percetakan telah
membuka dunia kepada para pembaca. Media masa juga membuka peluang kepada
setiap individu untuk menyampaikan gagasannya di ruang publik.
c. Sistem pendidikan Belanda
Proyek pendidikan pemerintah kolonial Belanda
dimulai sekitar pertengahan abad ke-19. Adanya pendidikan Belanda ini membawa
implikasi kepada semakin besarnya jumlah kelompok masyarakat terpelajar.
Kelompok terpelajar inilah yang memprakarsai gerakan-gerakan sosial dan
nasionalisme Indonesia. Pemerintah juga membuka sekolah Guru dan sekolah
Dokter, selanjutnya didirikan sekolah tingkat menengah dan disusul sekolah
menegah atas.
Eksperimen pendidikan Islam modern berlangsung pada dekade pertama
abad ke-20 yang juga merupakan periode kebangkitan nasional bagi seluruh
komponen masyarakat di Hindia-Belanda. Madarasah Indonesia muncul sebagai
jembatan yang menghubungkan antara lembaga pendidikan umun dan lembaga
pendidikan tradisional pesantren. Perjumpaan antara pesantren, madarasah dan
organisasi sosial-keagamaan ini yang
menghasilkan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia.
3.
Lembaga pendidikan islam dan gerakan reformis:
muhammadiyah
Howard
M. Federspiel memposisikan Muhammadiyah sebagai
gerakan muslim ortodoks di Indonesia. Hal ini didasarkan pada argumen
bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi muslim yang memberikan penekanan
penting terhadap "keesaan Tuhan" whid), perilaku Islami (akhlaq), dan pelaksanaan
doktrin ibadah n mu'amalat ifiqh). Nilai-nilai
ortodoksi ini harus menjadi dasar igi kaum muslim dalam menjalankan kehidupan.
Organ isasi ini juga endorong pengikutnya untuk setia terhadap kontep ummah (komunitas kaum
beriman) karena hanya dalam lingkungan ummah dok-in ortodoksi dapat
terimplementasikan. Melihat doktrin keislaman disuarakan dan sebagian tokoh
yang dijadikan referensi seperti
Taymiyyah dan Muhammad ibn 'Aijd al-Wahhab.
Muhammadiyah juga dikenal dekat dengan
kelompok muslim salafi. Salafi merupakan kelompok muslim yang memandang bahwa
kelompok muslim terdahulu yang berarti sahabat Nabi merupakan kelompok muslim utama,
yang harus dijadikan contoh dalam beragama. Titik temu Muhammadiyah dengan
kelompok muslim Salafi terletak pada promosi gerakan purinkasi ajaran
lslam dari praktik-praktik yang dipandang tidak islami.
Para peneliti juga memberikan deskripsi
tentang Muhammadiyah sebagai bagian dari gerakan reformis dan modernis Islam di
kalangan kaum muslim Indonesia. Gerakan reformis dan modernis merupakan gerakan
yang secera terus-menerus bertujuan memelihara bagian dari masa lampau.
menjustifikasi masa kini, dan melegitimasi masa depan yang dapat dipahami dan karena itu
menciptakan keterkaitan antara "yang lampau. yang lama, dan yang sekarang
yang baru". Mereka mendasarkan diri pada argumen bahwa
nilai-nilai Islam merupakan komponen terpenting dari setiap reform.
4.
Lembaga Pendidikan Islam dan Reproduksi Ulama
Nahdatul Ulama
Pada pembahasan ini akan disampaikan modernisasi
pendidikan pesantren di lingkungan NU dan strategi memelihara tradisi sistem
pendidikan pesantren berhadapan dengan modernisasi, yang dibagi menjadi tiga
bahasan di bawah ini;
Ideologi NU dengan fokus kepada doktrin dasar NU
yang menjadi basis dalam merumuskan materi keislaman dalam lembaga pendidikan
Nahdatul Ulama merupakan organisasi muslim tradisionalis
terbesar di Indonesia. Didirikan oleh ulama pesantren pada 31 Januari 1926. Nu
diperkirakan memiliki pengikut sebanyak 60 juta muslim dengan 30 pengurus
wilayah, 339 pengurus cabang, 2.630 majelis cabang, dan 37.125 pengurus ranting
tersebar di Indonesia. Oleh karena itu, kedudukan NU sanagt penting diseluruh
Indonesia. Tujuan pembentukan NU yang sekaligus menjadi dasar ideologi
keagamaannya adalah menjaga dan menyebarkan wacana keagamaan yang berada dalam
garis ortodoks di bawah bendera ahl al sunnah wa al-jama’ah.dalam
konsepsi Kiai Hasyim Asy’ary, ahl al sunnah wa al-jama’ah dirumuskan
sebagai paham keagamaan dalam bidang fiqh mengikuti empat mahzab (maliki,
hanafi, syafi’i, hambali)
Modernisasi sistem kelembagaan pendidikan modern,
baik dalam bentuk madrasah maupun sekolah umum
Lembaga pendidikan Islam, pesantren dan madrasah,
merupakan media transmisi dan tempat paling efektif untuk menjaga dan
memelihara tradisi keagamaan NU. Kalangan pesantren melakukan sejumlah
penyesuaian untuk mendukung kontinuitas pesantren dan bermanfaat bagi para
santri.terdapat dua elemen dalam sistem pendidikan modern dan mendapat alokasi
dalam lingkungan pesantren. Pertama, sistem kelembagaan madrasah, sebuah sistem
pendidikan yang berjenjang dan klasikal, penerapan sebuah kurikulum dan jadwal
pelajaran, penyelenggaraan ujian, kelulusan, dan ijazah, terkadang yang
dilegalisasi negara seabgai tanda lulus. Kedua, masuknya materi pengetahuan
umum dan sekuler sebagai bagian dari bidang kajian santri.
Pada periode setelah penjajahan, pesantren
merupakan lembaga pendidikan Islam alternatif disamping madrasah negeri dan
swasta. Merespon perkembangan ini, semakin banyak pesantren yang mendirikan
madrasah di dalam kompleks pesantren masing-masing. Dengan cara ini, pesantren
tetap berfungsi sebagi pesantren dalam pengertian aslinya, yakni tempat
pendidikan dan pengajaran bagi para santri yang ingin memperoleh Islam secara
mendalam sekaligus menawarkan lembaga pendidikan formal madrasah kepada santri.
Dengan terdaftar sebagai murid madrasah, mereka kemudian mendapat pengakuan
dari Departemen Agama dan dengan demikian memiliki akses lebih besar tidak
hanya untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga dalam dunia kerja. Beberapa
pesantern bahkan bereksperimen
mendirikan lembaga-lembaga pendidikan umum yang berada di bawah sistem
Departemen Pendidikan; bukan sistem pendidikan agama yang di bawah Departemen
Agama. Dengan kata lain, pesantren bukan hanya mendirikan madrasah, tetapi juga
sekolah umum yang mengikuti sistem dan kurikulum Departemen Pendidikan.
Pesantren perintis dalam eksperimen ini adalah Pesantren Darul Ulum, Rejoso,
Peterongan, Jombang.
Madrasah-Pesantren “NU-Based Culture” dan
Reproduksi Ulama
Transformasi pesantren tidak menghapus seluruh
ciri khas pembelajaran di pesantren. Transformasi dipandang sebagai perluasan
sistem pembelajaran di pesantren. Karena memiliki misi sebagai tempat
“pendidikan kader”, madrasah di lingkungan pesantren menjadikan tradisi NU
sebagai basis (NU-based culture) memiliki beberapa ciri penting. Pertama,
madrasah memiliki kurikulum sendiri hasil kombinasi kurikulum Departemen agama
dengan kurikulum pesantren. Kedua, buku-buku standar pesatren yang dikenal
sebagai kitab kuning tetap digunakan sebagai rujukan dalam materi keislaman
madrasah. Ketiga, materi ke-NU an ahl sunnah wa al-jama’ah diberikan
disetiap tingkatan, baik tingkat dasar,tingkat menengah, dan tingkat menengah
atas,termasuk perguruan tinggi. Keempat, madrasah tersebut sebagian mengikuti
“ujian negara” dan sebagian lagi menolak. Hal tersebut dikarenakan disatu sisi
ingin mendapatkan legitimasi negara dengan harapan tamatannya memiliki
kesempatan pendidikan lanjutan (pro ujian negara), disisi lain ingin
mempertahankan ciri khas dan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Islam
independen tanpa campur tangan negara (menolak ujian negara). Perguruan Islam
Mathaliul Falah oleh kiai Sahal Mahfudz contohnya yang menolak ujian negara.
Sedangkan Madrasah al-Munawwir oleh Kiai Ali Maksum contohnya yang pro ujian
negara.