ASAL USUL DESA GUDO KECAMATAN GUDO DAN EKSISTENSI KLENTENG HONG SAN KIONG KABUPATEN JOMBANG, JAWA TIMUR
A. Desa Gudo
1. Asal usul desa Gudo
Menurut keterangan masyarakat sekitar, istilah Gudo berasal dari sebutan nama tempat ibadah orang Cina yang bernama “Pagoda”. Tempat ibadah tersebut terbentuk menyerupai wihara atau kuil dengan atap yang bertingkat, konon pagoda ini berada di tempat berdirinya Klenteng saat ini. Jika ada orang yang menganggap bangunan tinggi di Klenteng sekarang itu adalah Pagoda maka itu anggapan yang salah. Keberadaan orang Tionghoa di suatu tempat, bukanlah tanpa alasan tertentu. Orang Tionghoa dikenal dengan semangat kerja kerasnya untuk mendapatkan sesuatu termasuk dalam urusan ekonomi. Daerah Gudo bukanlah tempat yang ramai dan tidak mnejadi pusat perekonomian. Maka dengan peluang inilah yang mendasari mereka untuk melakukan perjalanan hingga ke daerah Gudo selain itu juga karena masyarakat pribumi yang belum menguasasi perkembangan ilmu-ilmu perekonomian secara matang dan penerapannya. Menurut Booke dalam bidang perekonomian, orang Cina bersedia melakukan dari hal yang terkecil bahkan dari hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh orang Jawa. Pernyataan Booke tersebut dapat dibuktikan dengan semakin banyaknya pusat-pusat perekonomian di Indonesia salah satunya di desa Gudo ini. Tali persaudaraan diantara kaum Tionghoa juga sangat tinggi sehingga jika salah satu diantara mereka ada yang belum memiliki pekerjaan maka saudara lain bersedia untuk membantunya entah itu dengan memberikan pinjaman modal usaha atau memberikan sebuah pekerjaan. Dari komunitas Cina dan perekonomiannya yang terus berkembang ini, maka penamaan Gudo yang merupakan penggalan dari Pa-Goda = Pa-Gudo dianggap dapat mewakili daerah tersebut.
2. Ekonomi masyarakat Tionghoa Gudo
Kedatangan bangsa Cina juga tidak semata-mata hanya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi tetapi mereka juga membawa pengaruh kesenian yaitu wayang Poo The Hie. Wayang Poo The Hie adalah wayang yang berasal dari Cina. Wayang ini berbeda dengan wayang lainnya di Indonesia seperti wayang kulit, baik dilihat dari segi bahan pembuatnya, cerita yang ditampilkan, lakon yang diperankan, alat dan jenis musik yang dimainkan juga berbeda.
Dari pembahasan ini, dapat ditarik garis merah bahwa desa Gudo memiliki penduduk asli yang terdiri dari masyarakat pribumi tetapi karena mereka kurang memainkan peran dalam perekonomian dan juga karena kedatangan bangsa Cina pada saat itu bersamaan dengan masa kepemimpinan Kerajaan Islam (abad 17). Meskipun Gudo tidak memiliki pusat kerajaan baik Hindu maupun Islam tetapi pengaruh ajarannya tersebar hingga ke pedalaman. Ajaran tersebut adalah apa yang disebut manunggaling kawula gusti atau patuhnya rakyat kepada raja. Rakyat melakukan aktivitas ekonomi pedesaan seperti berdagang dan bertani. Hasil dari kegiatan tersebut, sekian persen diserahkan kepada Raja sebagai pembayaran pajaknya. Jenis kegiatan ekonomi tersebut kemungkinan tidak akan berubah jika tidak ada orang asing yang masuk ke dalam sebuah desa untuk memerkenalkan dan melakukan modernisas ekonomi. Sistem perekonomian desa disebut perekonomian subsisten artinya orang pribumi melakukan aktivitas ekonomi sekedarnya hanya untuk mencukupi kebutuhan hari itu saja. Jika kebutugannya telah terpenuhi maka orang tersebut berhenti bekerja untuk menghasilkan tambahan uang.
Sedangkan orang Cina berani melakukan terobosan ekonomi, seperti yang ada dalam buku Sedjarah Gudo (1954), disebutkan berbagai macam usaha yang dilakukan oleh orang Cina di daerah Jombang, Kertosono, Mojokerto, Papar, Minggiran, dan Kediri seperti pabrik gula, pabrik mie, pabrik kecap, toko emas, toko beras, perusahaan susu dan sebagainya.
Melanjutkan dari pernyataan sebelumnya bahwa diantara orang Cina adalah saudara dan saling membantu satu dengan yang lainnya. Menurut seorang dalang wayang Poo Tee Hie yang telah berkecimpung lama dalam kehidupan masyarakat Cina, mengatakan bahwa saat ini diantara orang Cina sudah tidak seperti lagi. Dalam hal ini, rasa kepedulian dalam kekeluargaan antar orang Cina telah berkurang, bagi orang Cina yang memiliki kecukupan materi enggan untuk membantu sesamanya. Hal ini terlihat pada beberapa orang Cina yang tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga tampak terlihat tidak terurus terutama pada orang Cina yang sudah lanjut usia. Fenomena ini yang dapat kita sebut sebagai demoralisasi tidak hanya terjadi pada orang Indonesia yang terkenal dengan unggah-ungguh yang sopan, ramah tetapi masyarakat lain dengan budaya yang berbeda juga mengalami hal yang sama. Perubahan ini terjadi karena pada awal kedatangan mereka di suatu tempat masih berperan sebagai perintis atau pionir usaha perekonomian yang mereka bangun. Namun, kini usaha mereka telah berkembang, lingkungan sekitarnya, perkembangan zaman, dan sebagainya dapat mempengaruhi perilaku etnis Tionghoa tersebut.
B. Peran Klenteng Hong San Kiong terhadap keberadaan masyarakat Tionghoa di desa Gudo
1. Klenteng sebagai tempat ibadah dan perayaannya
Puluhan tahun lalu, Rumah Berhala Tionghoa di Gudo sangat kenamaan atau terkenal khususnya didaerah karesidenan Kediri dan Surabaya, dan pada umumnya Jawa Timur yaitu Klenteng Hong San Kiong-Kong Tik Tjun Ong. Sebelum 1941, Klenteng tersebut masih dalam keadaan yang sederhana. Letak Klenteng ini terdapat di pertigaan antara Blimbing, Kediri, Jombang. Di tengah jalan pertigaan ini terdapat sebuah tugu peringatan kemerdekaan (sekarang sudah tidak ada), maksud dari tugu ini adalah untuk memaknai dengan sungguh-sungguh arti dari Keluhuran, kemuliaan, keutamaan, dan kemerdekaan abadi.
Sejak dulu, tradisi yang dijalankan klenteng termasuk perayaan hari besar konghucu diselenggarakan oleh masyarakat sekitar di Klenteng ini. Sebagai salah satu contoh perayaan tersebut adalah pada tahun sebelum 1930 M, Kongtjo ialah sebutan untuk nenek leluhurnya yang dituakan sering dikarak dengan segala upacaradan keramaian sebagaimana biasanya, ada yang mempertunjukkan jalan dalam jalanan api, lidah ditusuk pedang, naik tangga pedang yang tajam dan sebagainya. “Hu” atau surat tumbal dari Kongtjo, dalamnya berisi tulisan dari huruf-huruf Tionghoa tetapi tidak dapat dibaca, ditulis dari lidah yang berlumuran darah dengan jari-jarinya. Itulah yang kini disebut Hu dan orang-orang banyak yang menempelkan di depan atau belakang pintu rumah yang berfungsi sebagai tumbal keselamatannya. Untuk menambah kemewahan dan keramaian dalam upacara tersebut, maka ditampilkan pula Liong, Barongsai, dan Tjenggee. Namun tradisi ini tidak muncul lagi, hanya beberapa upacara pokok yang disuguhi penampilan Liong dan Barongsai tersebut. Kongtjo tidak lagi muncul dalam arak-arakan karena suatu alasan yaitu menurut orang Cina, Kongtjo mengetahui perkembangan zaman yang sekarang berlangsung maka dari itu karak-karakan dan keramaian hanya dilakukan dalam halaman klenteng. Perubahan ini juga terjadi misal sejak 1940, Kongtjo tidak mau mandi, hanya baru mulai 1952 Kongtjo suka mandi. Air kembang bekas digunakan untuk Kongtjo mandi pun diperebutkan oleh warga sekitar, hal itu dipercaya untuk keselamatan diri dan rumah tangganya.
Kelengkapan peralatan dalam klenteng juga hal yang menjadi perhatian. Namun ternyata seorang pedagang Tionghoa dari Blimbing yang mengerjakan perbaikan dan membangun gedung klenteng Hong San Kiong sehingga terlihat selayaknya sekarang. Banyak sumbangan-sumbangan yang diterima dari tempat yang jauh pula. Renovasi ini dilakukan beberapa bulan hingga akhirnya selesai pada saat Jepang datang berkuasa. Selain sumbangan untuk bangunan pokok, ada sumbangan-sumbangan lain yang berupa meja kursi, lampu, dan juga satu set wayang poo tee hie. Pihak klenteng menghendaki jika peralatan-peralatan yang dimiliki klenteng dapat bermanfaat bagi warga sekitar misalnya dengan meminjamkan peralatan tersebut untuk hajatan acara pernikahan, kematian, dan perayaan lainnya. Akan tetapi tidak sedikit pula orang yang tidak mengembalikan peralatan milik klenteng padahal setiap barang tersebut dilindungi oleh leluhur orang Cina dan memiliki sifat kemurkaan tersendiri.
a. Perayaan Imlek
Setiap tahun Imlek bulan 2 tanggal 22 adalah hari sembahyang peringatan kelahiran Kongtjo, selain itu juga pada bulan 8 tanggal 22 adalah hari peringatan penerimaan wahyu dari Thian. Pada hari-hari tersebut banyak sekali yang berdatangan termasuk dari lura kota. Peringatan ini juga dimeriahkan dengan pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk serta wayang poo tee hie. Seperti tradisi agama lain yaitu melekan; bhs. Jawa (tidak tidur semalaman, orang Cina juga ada yang melakukan hal demikian dengan semalaan di dalam klenteng pada waktu terutama ketika hari sembahyangan Pekgwee 22 yaitu ketika Kongtjo menerima wahyu dari Thian.
2. Zaman pendudukan Belanda
Keberadaan masyarakat Tionghoa hingga saat ini di Desa Gudo tidak terlepas dari peranan yang dilakukan Klenteng atau yang oleh orang dulu disebut sebagai Rumah Berhala Tionghoa. Disebutkan dalam buku “Sedjarah Gudo” bahwa ketika masa penyerbuan Belanda disebut sebagai clash ke-II atau aksi polisi-polisinan yang terjadi di akhir tahun 1948 bulan Desember. Dari kejadian ini banyak tempat-tempat yang mengalami kerusakan bahkan hancur, tetapi tidak hanya infrastruktur yang rusak korban jiwa pun banyak yang melayang akibat peristiwa ini. Warga tidak dapat melupakan peristiwa tanggal 20 Maret 1949 ketika pesawat tempur milik Belanda dengan leluasanya terbang di atas desa Gudo. Tidak ada perlawanan dari warga sehingga dengan bebasnya Belanda menghamburkan pelor dari senapan mesin kaliber besar serta menjatuhkan beberapa bom peledak. Peristiwa itu lebih tepatnya terjadi pada pukul 7.30 pagi, setelah menyerang Cukir dengan mitrailleur segera menyerang Gudo. Di pertigaan Gudo tepat di depan Klenteng adalah area yang benar-benar diincar oleh Belanda karena dekat pertigaan tersebut terdapat rumah sebagai perkemahan musuhnya. Sering kali pesawat mereka terbang setinggi pohon kelapa untuk menjatuhkan dua buah bom. Setelah itu mereka terbang miring berputar-putar dan mengarahkan senapan mesinnya, hari itu seperti hujan peluru. Peristiwa inilah yang menjadi kecaman pihak luar, begitulah cara mereka menunjukkan kesopanan dan peradaban di akhir kekuasannya.
Beberapa detik sebelum penyerangan, ada beberapa warga yang beruntung dan berhasil melarikan diri dari rumahnya untuk berlindung di dalam Klenteng. Penyerangan ini memimbulkan korban jiwa sebanyak 2 orang, yang mana orang ini adalah tidak tahu menaung masalah adanya penyerangan itu. Mereka hanya berniat untuk belanja ke pasar tetapi dari arah yang tak diduga meluncurlah serangan Belanda tersebut. Lain lagi dengan warga yang tidak sempat melarikan diri dari rumahnya. Penghuni rumah tersebut terdiri dari suami, istri, dua anaknya, serta ibnya yang sudah tua. Untunglah tidak ada bom yang meledak di dekat rumah mereka, jika benar-benar tejadi hal tersebut maka klenteng juga mengalami goncangan dari penyerangan tersebut.
3. Zaman pendudukan Jepang
Pada masa Jepang datang untuk berkuasa, para tentara mereka melakukan penyisiran ke daerah pedalaman. Warga pribumi dan orang Cina yang berada di Gudo menjadi panik dan mencari perlindungan ke dalam klenteng. Peristiwa ini terus berlangsung hingga warga menginginkan untuk keluar dari Guda, tetapi Kongtjo tidak mengizinkan hal tersebut. Kongtjo memberi petunjuk hanya satu orang yang diperbolehkan keluar dari klenteng dan benar saja orang tersebut memang membawa mobil dan memiliki bahan bakar yang cukup. Dengan mendapatkan izin dari Kongtjo, seperti mendapatkan satu jaminan keselamatan. Garis besar dari peristiwa ini adalah keadaan yang genting dan kacau akhirnya dapat berubah menjadi reda dan pulih kembali bagi meerka yang melindungkan diri dalam Klenteng Hong San Kiong. Tidak banyak informasi yang disebutkan mengenai pendudukan Jepang di Gudo, hanya beberapa gambaran keadaan warga Gudo ketika tentara jepang datang melakukan serangan ke daerah pedalaman.
C. Sumbangsih Klenteng Hong San Kiong terhadap pelestarian kesenian khususnya di Gudo
1. Wayang Poo Tee Hie
Wayang berasal dari Cina ini telah dibawa oleh pemiliknya (orang Cina) hingga ke Gudo. Tujuan ekonomi tidak semata-mata menjadi fokus utama tetapi memperkenalkan kesenian wayang juga menjadi perhatian perantau Cina tersebut. Wayang Poo Tee Hie dimainkan dengan cara memasukkan tangan sang dalang dan asistennya ke dalam sarung yang berbentuk boneka cina tersebut.
Satu set permainan wayang poo tee hie terdiri dari 5 orang dan 1 dalang. Alat musik yang digunakan antara lain Tambur = Kendang, Terompet dan Yanna, Gembreng, Kong Ah Yan (Yanna yang lebih besar), dan Kecer terdiri dari satu pasang besar dan kecil serta suling. Kekhasan dari pertunjukkan wayang poo tee hie dapat dilihat dari alat musik yang digunakan karena suara yang dihasilkan juga berbeda dengan suara alat musik Indonesia lainnya.
Menurut sang dalang, cerita yang diangkat dalam pertunjukkan wayang poo tee hie adalah cerita nyata atau asli Cina pada zaman kerajaan. Sedangkan cerita seperti yang ditayangkan di televisi seperti kerasakti, ada beberapa tambahan unsur fiktif yang berfungsi untuk menarik perhatian penonton. Salah satu cerita yang diangkat dalam wayang poo tee hie adalah kehidupan jenderal yang terkenal dalam cerita orang Cina yaitu Jenderal Sie Djin Koei yang dibagi dalam dua bagian kehidupan yaitu waktu muda ketika ia menjadi prajurit dan waktu tua ketika ia telah menjadi jenderal. Cerita yang banyak diangkat ketika negara Cina menghadapi Korea pada masa kerajaan dulu. Satu babak cerita dalam wayang poo tee hie dapat dimainkan dalam waktu kurang lebih satu bulan. Cerita wayang poo tee hie sebenarnya dapat diangkat ke dalam cerita ketoprak, menurut sang dalang karena ceritanya lurus artinya tidak begitu memiliki konflik dan mudah.
2. Barongsai
Adalah tarian asal Cina yang dimainkan oleh 2 orang dengan menggunakan semacam kain menyerupai singa yang menyelimuti pemainnya. Pemain pertama berada di depan dan bertugas untuk memegang kepala si barongsai sedangkan pemain kedua memegang pinggul pemain pertama dan bertugas sebagai ekor barongsai yang harus mengikuti gerak pemain di depannya. Kain penutup ini dapat bermotif warna merah atau emas yang identik dengan warna tionghoa atau warna lainnya yang dikombinasikan sehingga memberikan kesan menarik. Sebenarnya tarian barongsai dibuat untuk menakuti musuh yang hendak menyerang.
Barongsai terbagi dalam dua jenis yaitu singa utara dan singa selatan. Singa utara terlihat lebih natural, memiliki 4 kaki sedangkan singa selatan memiliki hiasan sisik di badannya, jumlah kaki bervariasi yaitu 2-4 buah, diatas kepalanya terdapat tanduk, geraka singa selatan juga lebih keras dan melonjak-lonjak mengikuti iringan musik gong dan tambur. Gerakan singa utara lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki.
3. Liong
Adalah boneka naga yang dipertunjukkan dengan mengangkat badan naga dengan dilenggok-lenggokkan sehingga menghasilkan efek seperti ombak yang indah. Tarian liong dimainkan kurang lebih oleh 8 orang dan kebanyakan laki-laki. Ada awalnya tarian liong digunakan untuk menyembuhkan atau mengusir penyakit. Ada juga yang menyebutkan bahwa tarian liong adalah bagian dari kebudayaan pertanian dan digunakan ketika panen. Alasan hewan naga yang digunakan adalah naga dipercaya membawa keberuntungan bagi masyarakat karena kekuatan, martabat, kesuburan yang dimiliki naga tersebut. Selain itu juga naga memiliki penamplan yang gagah dan menakutkan sehingga sangat sesuai digunakan dalam lambang kekaisaran.
4. Wayang kulit
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa untuk malam-malam perayaan tertentu Klenteng Hong San Kiong mengadakan pertunjukkan wayang kulit. Mskipun wayang kulit adalah kesenian asli orang Jawa tetapi kesebian tersebut juga telah melekat dan menjadi hal yang harus ada dalam acara tersebut. Jika kembali pada masa lampau ketika Cina memasuki daerah pribumi khususnya Gudo, disitulah kebudayaan asli Jawa berada, maka sebagai rasa hormat dan penghargaan karena kesediaan menerima kaum Tionghoa di wilayah tersebut.
Pagelaran wayang kulit juga diselenggarakan semalam suntuk dan penontonnya juga banyak terutama para penarik becak yang merasa mendapatkan hiburan dari pertunjukkan itu. Tidak sedikit juga kaum Tionghoa yang menyukai kesenian asli Jawa ini dan ikut pula menontonnya.