Sunday, May 13, 2012

WE ARE ONE
Song by JFlow

We are many we are one living under the same sun 

We are many we are one we are one we are one


Verse
We're a land of more than 15 thousand islands
The ocean people dont just stand down in silence
Its time to get up man, let your voice be heard
The race is on now we gotta be the first
Bhineka Tunggal Ika unity in diversity
Kita pasti bisa together live in unity
Im Indonesian man, and Im proud
One hell of a nation I tell u what
Invaders came here but we kicked them out
Im Indonesian man, and Im proud
Once upon a time in the east there was this land that is so full of bliss
A land so rich we got everything a land so fertile you can plan almost anything
Lets forget the past move forward we got a lot to do
To be the best man its up to me and you

Verse
Cuz these are the truth that you rarely being told
That we're so rich of oil and gold 
And gas and minerals and all kinds of riches
The mountains rivers and beautiful beaches
We were once the leader of the region
Lion of Asia we didnt get for no reason
Your government might issue a travel warning
But right here we miss you so keep on coming
To this land where the people are nice
The spot on earth they call the paradise
Cuz we're surrounded by the ring of fire
We're not afraid we will only go higher
Im Indonesian man, and Im proud
One hell of a nation I tell u what
Invaders came here but we kicked them out
Im Indonesian man, and Im proud

Bridge
Now is the time we take our stand
To stay united till the end
We dont give up we dont give in
We dont give it up we dont give it in
Under one flag the red and white
Indonesia, we will be alright

Monday, March 5, 2012

SAATNYA BPR BERBANAH DIRI







 

 

Perlu ada pembenahan jika BPR mau tumbuh secara sustainable, di antaranya dengan penguatan struktur dana, permodalan, dan pembenahan SDM. Masih profitable-kah BPR? Apriyani Kurniasih BELUM ada yang bisa meramalkan kapan krisis global ini bakal meredup. Malah, katanya, krisis baru akan dimulai. Buktinya, Indonesia belum benar-benar merasakan dampak krisis. Konon, kuatnya fundamental perbankanlah yang menjadi tameng dan melindungi negara kita dari pengaruh krisis. Ibaratnya, kita baru kecipratan. Belajar dari pengalaman masa lalu, yaitu sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu bertahan terhadap guncangan krisis, pemerintah pun terus berusaha memroteksi sektor ini. Berbagai kebijakan pemerintah banyak berpihak pada sektor ini. Tak heran ketika bank umum ketar-ketir alias wait and see arah krisis, bank perkreditan rakyat (BPR)—yang memang fokus di pasar mikro—terlihat santai saja, melenggang dengan optimistis. Sektor mikro memang menjadi satu-satunya sektor yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. BPR merupakan salah satu lembaga keuangan mikro formal yang mempunyai kompetensi dan diakui pemerintah dengan layanan berfokus pada kebutuhan jasa keuangan masyarakat. Pentingnya peran BPR pun menggugah keinginan pemerintah untuk membenahi lembaga ini. Secara umum, peran strategis BPR adalah, satu, memperbaiki alokasi sumber daya yang berujung pada suatu aspek pemerataan. Dua, membantu dan memberdayakan kegiatan ekonomi masyarakat, khususnya sektor UMKM. Tiga, berkontribusi membangun sistem keuangan berdasarkan asas kemanusiaan dan keadilan.Sayang, hingga kini, peran tersebut belum optimal dilaksanakan. BPR bahkan belum memiliki kapabilitas yang diperlukan. Hal itu karena sektor UMKM yang menjadi target pembiayaan BPR memiliki berbagai risiko, seperti usaha tinggi, transaksi kecil dengan biaya tinggi, profitabilitas rendah, dan ketidakmampuan memberikan jaminan fisik. Untuk menutupi risiko tersebut, BPR pun kemudian mengambil langkah dengan menetapkan suku bunga tinggi. Hal itu membuat BPR terkesan seperti rentenir yang diformalkan. Terlebih di tengah tren kenaikan suku bunga yang mencekik nasabah. Untuk mengatasi hal itu diperlukan suatu reformasi yang bisa tetap mendukung keberlangsungan hidup BPR. Penetapan suku bunga tinggi bukanlah jalan keluar yang baik untuk menghadapi risiko yang mungkin datang.Meski masih diakses masyarakat, suku bunga tinggi hanya akan membatasi ruang gerak BPR dalam memberikan akses pembiayaan yang lebih permanen kepada nasabahnya. Sebab, begitu nasabah lebih bankable menerima kredit, BPR akan segera ditinggalkan untuk beralih ke bank yang bisa memberikan suku bunga lebih bersaing. Dalam menghadapi tantangan yang makin berat, BPR memang harus segera berbenah. Sebagai micro banking, BPR sebenarnya mempunyai banyak keunggulan. Tapi, juga tak sedikit masalah yang perlu segera diselesaikan di BPR. Menurut Edi Poernomo Santoso, Ketua Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dan Sumber Daya Manusia (SDM) Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jawa Timur, permasalahan yang sering timbul di BPR berasal dari internal maupun eksternal. Dari sisi internal, selain permasalahan individual, BPR yang diwakili Perbarindo sering dinilai kurang tanggap dalam membaca tanda-tanda zaman. Itu yang membuat BPR terkadang terlambat mengantisipasi terjadinya perubahan. Sementara itu, dari sisi eksternal, kian sempitnya pasar BPR dengan masuknya banyak bank umum ke sektor mikro. Secara cepat dan radikal, bank umum dan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) kian dalam menerobos pasar mikro yang menjadi hajat hidup BPR. BPR kini tidak hanya harus berhadapan dengan pesaing lama (BRI Unit), tapi juga dengan pesaing baru, seperti Citifinansial, Pinjaman HSBC, dan Danamon Simpan Pinjam (DSP). Yang lebih menyulitkan BPR adalah ketika para pesaing itu dengan mudahnya melakukan ekspansi melalui pembukaan kantor cabang secara bebas. Sementara, BPR hanya diperbolehkan membuka kantor kas. Itu pun tidak diizinkan mencairkan kredit. Kalaupun memaksakan membuka kantor cabang, BPR harus terlebih dulu membuat studi kelayakan dengan biaya yang cukup mahal dan waktu relatif lama. Itu pula yang membuat Hiras Lumban Tobing, Ketua DPD Perbarindo Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta Raya (Jaya) dan sekitarnya, meminta BI supaya ada suatu relaksasi aturan pembukaan cabang oleh BPR. Berbagai pembenahan saat ini memang mendesak untuk segera dilakukan BPR. Idealnya, industri BPR dapat memberikan pelayanan keuangan yang berkelanjutan. Melambatnya bisnis dan strategi wait and see yang dilakukan bank umum dalam mengucurkan pinjaman (lending) merupakan momen yang tepat bagi BPR untuk mulai berbenah diri. Ada beberapa hal yang perlu dikaji. Satu, reformasi kebijakan mengenai aturan serta sistem pengawasan terhadap lembaga atau pasar keuangan. Arena bermain di sektor mikro yang dulu menjadi santapan BPR sudah banyak ditempati sektor lain. Jumlah lembaga pembiayaan, baik formal maupun nonformal, sudah sedemikian banyak, sehingga diperlukan pengaturan kembali segmentasi pasar. Menurut Edi Poernomo, di satu sisi, kompetisi membuat bisnis makin sehat. Namun, harus dilihat juga kompetisi seperti apa. Kompetisi yang tidak seimbang antara bank umum dan BPR, misalnya, bisa mematikan BPR. Sementara, BPR yang spesifik fokus menangani sektor mikro ini menjadi salah satu lembaga formal yang masih diperlukan peranannya.Kompetisi antara BPR dan bank umum selayaknya dapat dialihkan menjadi suatu bentuk keja sama yang saling mendukung. Untuk itu, diperlukan suatu aturan tegas untuk target segmen pembiayaan BPR dan bank umum.Dua, dibutuhkan suatu inovasi baru dalam hal pengembangan produk oleh BPR. BPR kerap dihadapkan pada permasalahan likuiditas. Data statistik secara tegas menggambarkan betapa penghimpunan dana di BPR tumbuh dalam kisaran rendah dengan komposisi dana mahal lebih besar daripada dana murah.Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), dana pihak ketiga (DPK) BPR per November 2008 hanya tumbuh 14,52% dibandingkan dengan November tahun lalu. Deposito masih mendominasi dengan pangsa 66,93% ketimbang tabungan yang hanya 33,03%. Kesulitan BPR dalam menghimpun dana dikarenakan rendahnya insentif bagi nasabah yang menyimpan dananya di BPR. Produknya yang kurang inovatif dan sering terjadinya kasus terkait moral hazard di tubuh BPR membuat kepercayaan masyarakat terhadap BPR minim. Tiga, pembenahan diperlukan terkait dengan penguatan kelembagaan industri BPR. Upaya ini dapat dimulai dengan memperkuat struktur permodalan. Penguatan permodalan BPR ditujukan untuk menjaga keberlangsungan dan pengembangan BPR, baik secara kualitas maupun kuantitas. Kecukupan modal paling tidak dapat me­ringankan langkah BPR untuk terus me­ningkat­kan SDM dan siap menghadapi persaingan yang kini tambah ramai dengan hadirnya bank-bank umum swasta maupun asing. Selain permodalan, penguatan SDM di BPR mutlak harus ditingkatkan. Salah satunya yang kini tengah aktif dicanangkan adalah kewajiban sertifikasi manajemen risiko untuk direktur di BPR. Program sertifikasi ini bertujuan untuk meningkatkan keahlian dan kompetensi pengelola BPR—menilai kemampuan dan kepatutan direktur di BPR. Pelaku BPR memang masih menyimpan keoptimisan pada pasarnya yang terbukti tahan terhadap gejolak, meski badai krisis global belum juga reda. Pertanyaannya, apakah BPR masih bisa profitable? “Jika melihat rasio yang ada di BPR, (per September lalu, return on asset atau ROA 3,42% dan return on equity atau ROE 30,32%), maka jawabannya adalah BPR masih profitable,” tegas Edi Poernomo.Kinerja BPR per November 2008 masih menunjukkan pertumbuhan. Aset tumbuh 22,32%, DPK meningkat 15,52%, dan kredit naik 25,35%. Sementara itu, non performing loans (NPL) turun menjadi 9,95% ketimbang periode yang sama tahun lalu. Pertanyaannya kemudian, apakah BPR masih sustainable? Menurut Edi Poernomo, jika tidak ada pembenahan di industri ini, BPR tidak akan bisa sustainable lagi. Buktinya, NPL masih tinggi dan berpotensi naik lagi pada 2009. Liqudity gap antara dana dan kredit kian lebar. Biaya dana (cost of fund) BPR juga makin mahal. Ke depan, Edi Poernomo mengiginkan, BPR tidak lagi terlalu berharap pada linkage program. Sebab, selain bunganya mahal, bank umum tengah menghadapi liquidity gap yang tinggi. Per November 2008 pertumbuhan kredit perbankan mencapai 37,71%, sementara DPK hanya tumbuh 18,80%.Industri BPR dengan segala keunikannya sekaligus risiko tinggi di dalamnya memang memerlukan suatu suitable operational model yang sesuai dengan karakter usaha mikro. Dengan begitu, BPR makin profitable dan tumbuh secara sustainable.


Sunday, February 26, 2012

Alhamdulillah UKK sudah selesai............

Thursday, February 23, 2012

Wednesday, February 22, 2012

Saturday, January 28, 2012

CARA KERJA MESIN ATM


Dalam kehidupan sehari-hari kita sudah tidak asing lagi dengan nama ATM (Automatic Teller Machine), apalagi bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Dengan perkembangan teknologi yang pesat saat ini transaksi apapun dapat dilakukan melalui ATM, mulai dari penarikan tunai, transfer, pemindah bukuan, pembayaran tagihan, bahkan setoran tunai maupun cetak buku dapat dilakukan di ATM. Nah,
tahukah kamu bagaimana cara kerja sebuah mesin ATM? Yuk kita baca penjelasan selanjutnya…

Apakah dalam bayanganmu didalam ATM itu ada orang yang duduk, dan kalau ada yang mau ambil uang dihitung dulu setelah itu dikeluarkan kemudian diberi bukti penarikan? Tentu saja tidak seperti itu. Sebenarnya komponen ATM itu terdiri dari kotak ATM, tombol angka, layer monitor dan kamera (optional), yang biasa nampak dari luar. Sedangkan didalamnya terdiri dari satu unit computer CPU, key board, modem, kotak uang, printer kecil dan card reader.

Cara kerja mesin ATM sangat sederhana dan mudah. Jika kamu ingin bertransaksi menggunakan ATM, kamu hanya tinggal memasukkan kartu ATMmu ke dalam mesin. Setelah kartu ATM dimasukkan kedalam mesin, maka kartumu akan dibaca oleh magnetic card reader yang ada didalam mesin. Fungsi dari magnetic card reader adalah sebagai pembaca dan penerima data. Setelah data dibaca, lalu data tersebut dikirim ke sistem komputerisasi bank.

Saat mesin berhasil membaca data dalam kartu ATM mu, maka mesin akan meminta nomor PIN (Personal Identification Number). PIN ini tidak terdapat di dalam kartu ATM melainkan kamu harus memasukkannya sendiri. Jadi jangan sampai lupa nomor PIN mu yah. Kemudian setelah kamu memasukkan PIN, maka data PIN tersebut akan diacak (di-encrypt) dengan rumus tertentu dan dikirim ke sistem komputerasi di bank yang bersangkutan. Pengacakan data PIN ini dimaksudkan agar data-datamu tidak bisa terbaca oleh pihak lain.

Setelah data-datamu selesai diproses di sistem komputer bank, maka data-datamu akan dikirim kembali ke ATM. Dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu minta di mesin ATM tersebut seperti uang tunai, cek saldo, transfer tunai, dan sebagainya.

Pada sebuah kartu ATM terdapat garis yang dinamakan Magnetic Chip. Magnetik Chip tersebut mempunyai fungsi sebagai sensor pendeteksi identitas pemilik kartu ATM. Magnetic Chip sangat sensitif dengan berbagai keadaan, contohnya apabila Magnetic Chip tergesek oleh sebuah benda maka Magnetic Chip tersebut akan kehilangan fungsinya.

Ada dua hal penting yang harus dijaga agar transaksimu di ATM aman, yaitu: Kartu ATM dan PIN. Kedua perangkat ini saling berhubungan erat, sehingga kamu harus selalu ingat nomer PIN mu dan menjaga agar kartu ATM mu tidak hilang. Oh iya, untuk menjaga keamanan, jangan pinjamkan Kartu ATMmu kepada orang lain untuk kepentingan apapun. Simpanlah Kartu ATMmu pada tempat-tempat yang aman dan tidak mudah dijangkau orang lain.

Tuesday, January 17, 2012

Kasih Sepanjang Jalan

Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal.
Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.
Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.
Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini" bisikku perlahan.
Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.
Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.
Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.
Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....
Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...
Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.