CANDI SUKUH
Lokasi candi
Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah kelurahan Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar,. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni.. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta, dan 65 km di sebelah timur laut Kota Yogyakarta. Lokasi Candi Sukuh juga berdekatan dengan lokasi situs Candi Cetho dan beberapa lokasi air terjun. Jumog, merupakan air terjun yang paling dekat dengan Candi Sukuh. Selain itu ada juga air terjun Parang Ijo kurang lebih 2 km dari pertigaan Nglorok. Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut
Struktur bangunan candi
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan
kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari
candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah
lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi
Prambanan Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura
terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak
lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya.Batu-batuan
di candi ini berwarna agak kemerahan, sebab batu-batu yang dipakai adalah jenis
andesit.
Gapura utama candi
Sukuh.
Teras Pertama Candi
Pada teras pertama terdapat gapura utama. Pada
gapura ini ada sebuah sangkala dalam bahasa Jawa
yang berbunyi gapura buta abara wong. Artinya dalam bahasa
Indonesia adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini
memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka
atau tahun 1437
Masehi. Diteras pertama terdapat bangunan gapura dibagian depanya,
bangunan gapura diteras ini terbilang unik , karena gapura tidak berdiri tegak
melainkan miring seperti bangun trapesium
Teras kedua candi

Memasuki teras kedua anda akan menemukan relif- relief didinding gapura. Terdapat relief elang mencengkram ular naga, dan terdapat juga relief manusia tanpa busana.Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura yang biasanya terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala, didapati pula, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak dijumpai banyak patung-patung. Namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut. Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Jadi jika bilangan ini benar, maka ada selisih hampir duapuluh tahun dengan gapura di teras pertama!
Teras ketiga candi

Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar
dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di
sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini,
maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak
sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit. Tepat di atas candi
utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya
merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar,
sehingga terlihat masing sering dipergunakan untuk bersembahyang.
Candi Sukuh dibuat, era kejayaan Hindu sudah memudar, dan mengalami pasang
surut, sehingga kebudayaan asli Indonesia terangkat ke permukaan lagi yaitu
kebudayaan prahistori jaman Megalithic, sehingga mau tak mau budaya-budaya asli
bangsa Indonesia tersebut ikut mewarnai dan memberi ciri pada candhi Sukuh ini.
Karena trap ketiga ini trap paling suci, maka maklumlah bila ada banyak
petilasan. Seperti halnya trap pertama dan kedua, pelataran trap ketiga ini
juga dibagi dua oleh jalan setapa yang terbuat dari batu. Jalan batu di tengah
pelataran candi ini langka ditemui di candi-candi pada umumnya. Model jalan
seperti itu hanya ada di “bangunan suci” prasejarah jaman Megalithic.Kemudian
pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian relief-relief yang merupakan
mitologi utama Candi Sukuh dan telah diidentifikasi sebagai relief cerita Kidung Sudamala. Urutan
reliefnya adalah sebagai berikut.
Relief pertama
![]() |
.
Di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa atau
Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima.
Kedua-duanya adalah putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, istrinya yang kedua.
Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh
oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama
ketiga anaknya dari Pandu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok
dan diikuti oleh seorang punakawan atau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa
terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang
punakawan.
Relief kedua
![]() |
.
Pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga
yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah
mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan Kalañjaya menyertai
Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka
dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati
Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat
pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau
membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat
wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung
hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan
Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari sorga
karena pelanggaran.
Relief ketiga
Pada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa
bersama punakawannya, Semar
berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di
pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.
Relief keempat
Adegan di sebuah taman indah di mana sang Sadewa
sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang
punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan
putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya
Relief kelima

Lukisan ini merupakan adegan adu kekuatan antara
Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalañjaya. Bima dengan kekuatannya yang
luar biasa sedang mengangkat kedua raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku
pañcanakanya.Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang
merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air
kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab
pertama Mahabharata.
Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah prasasti. Kemudian sebagai bagian
dari kisah pencarian amerta tersebut di bagian ini terdapat pula tiga patung
kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk
kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai
tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan
Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari
tirta amerta.
Banyak sekali peninggalan bersejarah di nusantara
tercinta ini Warisan nusantara yang tidak pernah ada habisnya jika kita terus
menelusuri dan melestarikannya. Namun, sangat disayangkan, beberapa peninggalan
sejarah di Indonesia
dewasa ini mulai terasing di negeri sendiri. Anak kawula muda telah menemukan
dunia baru hasil impor dari berbagai mancanegara yang terbilang canggih.
Ketertarikan eksplorasi jelajah negeri sendiri pun mulai terabaikan dari agenda
liburan atau pariwisata anak negeri.Sungguh, sangat disayangkan, karena dari
pemuda dan pemudilah nusantara akan selalau terjaga. Semoga jiwa cinta
nusantara terus terpatri di dalam jiwa kita ini dengan kuat. Selayaknya anak
negeri yang mencintai negeri sendiri dan menjaga warisan nusantara sebagai
harta dan karunia yang terindah




No comments:
Post a Comment