Tuesday, October 25, 2022

MENGGANDENG CABDIN, MENUJU JOMBANG BANGKIT, BERSAMA WUJUDKAN MERDEKA BELAJAR

Cabdin Jombang
Dari kiri : Penulis bersama Bu Eni Jamilah, M. Pd. (Kepala SMA Islam Sunan Ampel), dan Bu Dra. Asijah, M. IP. (Kasi SMA CabDin Jombang)



Alhamdulillah wa syukurillah, dipertemukan dengan lingkungan yang baik dan orang-orang yang mendukung kegiatan pembaTIK ini. Salah satunya adalah Bu Eni (Kepala SMAISA), beliau mengaku senang dan berterima kasih karena telah membantu "mengangkat derajat SMAISA", begitu ujar beliau. Sekilas tentang SMAISA (SMA Islam Sunan Ampel) adalah sekolah kecil yang berdiri pada 2014, sekolah ini berada di lingkungan pondok Seblak, Jombang. Bagi pembaca yang mengetahui selayang pandang tentang Pondok Seblak dan KH. Mahfudz Anwar pasti tidak asing lagi mendengarnya. Pondok Seblak memiliki tokoh falak yang mendunia, perhitungan beliau diakui PBNU bahkan kitab-kitab karangannya dijadikan kitab rujukan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.Tidak lain beliau adalah KH Ma'shum Ali (Mertua KH Mahfudz Anwar).
Menjadi kebanggaan sendiri karena hidup di lingkungan pondok yang dapat memberikan kontribusi pada Negara Indonesia. Nah... sebenarnya dari sini, SMAISA memiliki nilai lebih, nilai jual di hadapan masyarakat. Akan tetapi, dari awal berdirinya SMAISA untuk kaum menengah ke bawah (dhuafa), kemungkinan peserta didik yang hendak bersekolah di SMAISA mungurungkan niatnya karena dari segi infrastruktur kurang mendukung. Hingga tahun ajaran 2022-2023, jumlah peserta didik yang mendaftar di SMAISA hanya 10 siswa.
Berdasarkan cerita penulis diatas, mungkin dari situlah kemudian bu Kepala Sekolah menyebut saya bisa mengengkat derajat SMAISA.😅 Bu Eni sangat mendukung kegiatan PembaTIK dan mengaku senang jika ada guru yang melakukan inovasi untuk pemeblajaran digital, atau sebagainya.
Hari itu, Selasa 25 Oktober 2022, saya dan bu Eni meluncur ke Cabang Dinas Kab. Jombng. Saya bertemu dengan Dra Asijah, M. IP beliau mengatakan bahwa ini adalah capaian yang hebat. Di sisi lain Jombang masih tergolong minim pemanfaatan layanan Pusdatin terutama seperti Platform Merdeka Mengajar, Rumah Belajar..... Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan bahwa tahun 2022, peserta yang lolos di babak 30 besar PembaTIK Jatim dan berasal dari Jombang adalah saya seorang. Oleh karena itu Bu Asijah menaruh harapan untuk Jombang bisa bangkit. Dan saya yakin, saya pasti bisa menggandeng teman-teman pengajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan portal Rumah Belajar yang fiturnya dapat ditentukan sesuai dengan kebutuhan guru. 
Guru tidak akan tergantikan oleh teknologi, tetapi guru yang enggan belajar TIK maka akan digantikan oleh kecanggihan IT.


SalamRumahBelajar! 💪😊

#PembaTIK
#PembaTIK2022
#PembaTIKLevel4
#rumahbelajar
#PusdatinKemendikbudristek
 

Saturday, October 22, 2022

BERBAGI BERSAMA GURU HEBAT SDN 3 SIDOWAREEK JOMBANG

SDN SIDOWAREK

 Alhamdulillah, meskipun sederhana tetapi khidmat. Begitulah kesan yang dapat saya rasakan ketika di sekolah tersebut. Sabtu, 22 Oktober 2022 bertepatan dengan Hari Santri, serangkaian kegiatan di sekolah untuk memperingati hari santri kemudian saya lanjutkan dengan sosialisasi Rumah Belajar. Meskipun lelah setelah berkegiatan tetapi tidak menyurutkan semangat guru.

sdn 3 sidowarek
Bersama Ibu Kepala Sekolah SDN 3 Sidowarek Ngoro, Bu Yuliatiningsih, S. Pd.





 

 Meskipun pertemuan kita hanya sesaat, tetapi mudah-mudahan apa yang kita pelajari bersama dapat bermanfaat di kemudian hari, terimakasih bapak ibu guru hebat.

SalamRumahBelajar! 😊

#PembaTIK
#PembaTIK2022
#PembaTIKLevel4
#rumahbelajar
#PusdatinKemendikbudristek

Wednesday, October 19, 2022

BERBAGI PRAKTIK BAIK BERSAMA SMA ISLAM SUNAN AMPEL TEBUIRENG JOMBANG

 

SMA ISLAM SUNAN AMPEL
Bersama Bapak Ibu Guru Hebat SMA Islam Sunan Ampel Tebuireng Jombang

Carilah ilmu meski hingga negeri Cina.
Ya begitulah peribahasa yang serimg kita dengar ketika sedang menimba ilmu. Di sekolah kami, tidak hanya guru-guru muda yang ada didalamnya, guru senior juga turut mewarnai pembelajaran di sekolah kami. Saya acungi jempol untuk bapak ibu guru yang tergolong senior, mereka sangat semangat dan antusias untuk belajar pembelajaran yang berbasis TIK.
Bapak Ibu guru SMAISA (begitu kami menyebut sekolah kami tercinta) sangat terbuka mengikuti sosialisasi Rumah Belajar ditengah kesibukan mereka. Awalnya ketika saya menanyakan pada mereka : "Ada yang pernah mendengar apa itu Rumah Belajar ?"
"Ya bu..." ada lagi yang lain menjawab "Saya belum pernah..."

Berdasarkan guru yang mengikuti sosialisasi tersebut, mayoritas belum pernah menggunakan aplikasi/ portal Rumah Belajar. Dari 8 peserta yang mengikuti, 1 diantaranya adalah KaTU, 7 lainnya adalah pengajar. Dari 7 guru ini, masih 1 orang guru yang sudah menggunakan aplikasi Rumah Belajar.
Setelah saya cerita tentang praktik pembelajaran saya di kelas dengan menerapkan Rumah Belajar mereka semakin tertarik  untuk menerapkan di kelasnya. Lebih lagi, setelah saya menyampaikan bagaimana cara mengakses Portal Rumah Belajar, berbayar atau gratis, cara menggunakan fitur-fitur yang ada di dalamnya... waaah mereka semakin antusias ingin segera mengunduh dan menerapkan di kelas.
Alhasil 7 orang termasuk KaTU yang mengikuti, segera mengunduh aplikasi Rumah Belajar dan melihat-lihat ada apa saja fitur-fiturnya.
Ada salah seorang guru juga antusias ingin menggunakan edugame di kelasnya, ada yang ingin mengunduh materi ajar di fitur Sumber Belajar, dan lain sebagainya. Sangat bervariasi.
Meskipun SMAISA adalah sekolah kecil yang berada di tengah-tengah sekolah besar disekitarnya, tapi tidak mematahkan semangat untuk terus belajar demi memberikan yang terbaik kepada peserta didik. 

Salam Rumah Belajar
Bapak Ibu Guru SMAISA telah mengunduh aplikasi Rumah Belajar


SalamRumahBelajar 👍😊
#PembaTIK
#PembaTIK2022
#PembaTIKLevel4
#rumahbelajar
#PusdatinKemendikbudristek



Hallo Sahabat Rumah Belajar
Salam untuk bapak ibu guru hebat seluruh Indonesia.
Mengawali kegiatan PembaTIK level 4 untuk Berbagi dan Berkolaborasi maka melalui flyer ini, saya mengajak pada bapak ibu guru, anak-anak didik, maupun orangtua untuk mengenal dan memahami lebih jauh tentang Portal Rumah Belajar.
Portal ini merupakan keluaran Pusdatin Kemendikbudristek pada tahun 2011, hanya saja belum banyak yang mengenal bahkan mengetahuinya. Kondisi Covid-19 memaksa kita sebagai pengajar untuk menggunakan pembelajaran digital. Salah satu fasilitas yang disediakan oleh Pusdatin adalah Portal Rumah Belajar. Didalam Portal tersebut, banyak fitur-fitur yang dapat kita manfaatkan mulai dari sumber belajar, bank soal, kelas maya, Lab maya, buku sekolah elektronik, peta budaya, dan fitur lain yang tentu saja sangat menarik. Daaan.... ini yang paling menarik dan berbeda dari yang lainnya yaituuu fiturnya yang tersedia banyak, tidak berbayar pula.. alias geratiiiisssss.
Jadi... tunggu apa lagi Sahabat Rumah Belajar, ayoo instal aplikasi Rumah Belajar sekarang juga :)

Tuesday, October 18, 2022

PEMANFAATAN FITUR PETA BUDAYA DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH (KELAS X-IPS)

XI IPS
Bersama Siswa Kelas X IPS

 Hari ini, 18 Oktober 2022 mengajar di kelas X-IPS rasanya ada yang berbeda karena kali ini adalah perdana mereka menggunakan Portal Rumah Belajar untuk materi sejarah.
Siswa kelas X-IPS mengakui ada yang sudah pernah mendengar, dan ada pula yang belum pernah mendengar tentang Portal Rumah Belajar.
Kali ini, kelas X-IPS belajar materi "Asal Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia". Oleh karena di pertemuan sebelumnya telah dibahas sub bab "Teori Masuknya Makhluk Purba ke Nusantara", untuk pertemuan kali ini melanjutkan materi yaitu tentang "Makhluk Purba Indonesia". Untuk menyelami lebih dalam terkait sub bab tersebut, maka saya meminta siswa untuk mengeluarkan "smartphone" dan membuka portal Rumah Belajar. Bagi siswa yang belum memiliki aplikasi tersebut, saya pandu mereka untuk mengunduh dan memasang Portal Rumah Belajar di smarthphone mereka. Dan... setelah tahu bahwa portal tersebut gratis reaksi siswa semakin senang dan semangat karena aplikasi Rumah Belajar berbeda dengan aplikasi lain yang mengenakan tarif.
Setelah terpasang di gawai mereka, saya menunjukkan langkah-langkah penggunaan Rumah Belajar. Mereka semakin nyaman menggunakan portal tersebut karena menggunakan fitur yang ada di dalamnya tidak harus dengan log-in.
Pada pertemuan kali ini, saya memanfaatkan fitur Peta Budaya. Saya meminta siswa untuk mencari peninggalan pra aksara melalui fitur Peta Budaya.
Alhasil, siswa menemukan beberapa dan mereka semakin semangat untuk membaca, mengamati info yang tercantum. Karena informasi yang ditampilkan menarik dan tidak bosan untuk dibaca.
 

Pemanfaatan Rumah Belajar
Penggunaan fitur Peta Budaya untuk melengkapi nilai harian

Salam Rumah Belajar


 

SalamRumahBelajar!
#PembaTIK
#PembaTIK2022
#PembaTIKLevel4
#rumahbelajar
#PusdatinKemendikbudristek

Friday, October 14, 2022

 

Assalamu'alaikum
Salam hebat bapak ibu guru Seluruh Indonesia !!
Alhamdulillah, akhirnya sampai juga pada level 4 dalam kegiatan PembaTIK tahun 2022. Capaian hingga di level 4 ini tidak semudah yang saya pikirkan. Tapi di sisi lain, saya enjoy mengerjakan tugas yang diberikan mulai dari Level 1 hingga level 4. Sedikit cerita, level 1 dimulai pada 27 Juni hingga 8 Juli 2022 dengan tugas Literasi TIK. Kemudian dilanjut dengan Level 2 pada 22 Juli hingga 13 Agustus 2022 dengan tugas Implementasi TIK. Setelah itu lanjut di level 3 pada Agustus akhir hingga September 2022 dengan tugas Kreasi TIK. 

Dan Alhamdulillah..., Akhirnya pertengahan Oktober keluar pengumuman peserta pembaTIK 2022 yang telah lolos menuju level 4. Di setiap provinsi diambil 30 peserta yang lolos dalam level 4. Pada level 4, peserta pembaTIK sudah mendapatkan titel "Sahabat Rumah Belajar".

Pada level 4 ini, tugas yang diberikan adalah Berbagi dan Berkolaborasi. Peserta diharapkan dapat berbagi dan berkolaborasi dengan unsur tertentu tentang Portal Rumah Belajar keluaran Pusdatin Kemendikbudristek.

Nah, apakah Kalian pernah mendengan Rumah Belajar ??? Coba simak postingan blog berikutnya yaa... :)
Semangat bapak ibu guru hebat.
Tidak ada kata berhenti untuk belajar.
Guru tidak akan tergantikan oleh TIK, tetapi guru yang tidak mau belajar TIK maka akan tergantikan oleh TIK. 
Salam Hebat !!!

Wednesday, December 10, 2014

ASAL USUL DESA GUDO KECAMATAN GUDO DAN EKSISTENSI KLENTENG HONG SAN KIONG KABUPATEN JOMBANG, JAWA TIMUR

A. Desa Gudo
1. Asal usul desa Gudo
Menurut keterangan masyarakat sekitar, istilah Gudo berasal dari sebutan nama tempat ibadah orang Cina yang bernama “Pagoda”. Tempat ibadah tersebut terbentuk menyerupai wihara atau kuil dengan atap yang bertingkat, konon pagoda ini berada di tempat berdirinya Klenteng saat ini. Jika ada orang yang menganggap bangunan tinggi di Klenteng sekarang itu adalah Pagoda maka itu anggapan yang salah. Keberadaan orang Tionghoa di suatu tempat, bukanlah tanpa alasan tertentu. Orang Tionghoa dikenal dengan semangat kerja kerasnya untuk mendapatkan sesuatu termasuk dalam urusan ekonomi. Daerah Gudo bukanlah tempat yang ramai dan tidak mnejadi pusat perekonomian. Maka dengan peluang inilah yang mendasari mereka untuk melakukan perjalanan hingga ke daerah Gudo selain itu juga karena masyarakat pribumi yang belum menguasasi perkembangan ilmu-ilmu perekonomian secara matang dan penerapannya. Menurut Booke dalam bidang perekonomian, orang Cina bersedia melakukan dari hal yang terkecil bahkan dari hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh orang Jawa. Pernyataan Booke tersebut dapat dibuktikan dengan semakin banyaknya pusat-pusat perekonomian di Indonesia salah satunya di desa Gudo ini. Tali persaudaraan diantara kaum Tionghoa juga sangat tinggi sehingga jika salah satu diantara mereka ada yang belum memiliki pekerjaan maka saudara lain bersedia untuk membantunya entah itu dengan memberikan pinjaman modal usaha atau memberikan sebuah pekerjaan. Dari komunitas Cina dan perekonomiannya yang terus berkembang ini, maka penamaan Gudo yang merupakan penggalan dari Pa-Goda = Pa-Gudo dianggap dapat mewakili daerah tersebut. 
2. Ekonomi masyarakat Tionghoa Gudo
Kedatangan bangsa Cina juga tidak semata-mata hanya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi tetapi mereka juga membawa pengaruh kesenian yaitu wayang Poo The Hie. Wayang Poo The Hie adalah wayang yang berasal dari Cina. Wayang ini berbeda dengan wayang lainnya di Indonesia seperti wayang kulit, baik dilihat dari segi bahan pembuatnya, cerita yang ditampilkan, lakon yang diperankan, alat dan jenis musik yang dimainkan juga berbeda.
Dari pembahasan ini, dapat ditarik garis merah bahwa desa Gudo memiliki penduduk asli yang terdiri dari masyarakat pribumi tetapi karena mereka kurang memainkan peran dalam perekonomian dan juga karena kedatangan bangsa Cina pada saat itu bersamaan dengan masa kepemimpinan Kerajaan Islam (abad 17). Meskipun Gudo tidak memiliki pusat kerajaan baik Hindu maupun Islam tetapi pengaruh ajarannya tersebar hingga ke pedalaman. Ajaran tersebut adalah apa yang disebut manunggaling kawula gusti atau patuhnya rakyat kepada raja. Rakyat melakukan aktivitas ekonomi pedesaan seperti berdagang dan bertani. Hasil dari kegiatan tersebut, sekian persen diserahkan kepada Raja sebagai pembayaran pajaknya. Jenis kegiatan ekonomi tersebut kemungkinan tidak akan berubah jika tidak ada orang asing yang masuk ke dalam sebuah desa untuk memerkenalkan dan melakukan modernisas ekonomi. Sistem perekonomian desa disebut perekonomian subsisten artinya orang pribumi melakukan aktivitas ekonomi sekedarnya hanya untuk mencukupi kebutuhan hari itu saja. Jika kebutugannya telah terpenuhi maka orang tersebut berhenti bekerja untuk menghasilkan tambahan uang. 
Sedangkan orang Cina berani melakukan terobosan ekonomi, seperti yang ada dalam buku Sedjarah Gudo (1954), disebutkan berbagai macam usaha yang dilakukan oleh orang Cina di daerah Jombang, Kertosono, Mojokerto, Papar, Minggiran, dan Kediri seperti pabrik gula, pabrik mie, pabrik kecap, toko emas, toko beras, perusahaan susu dan sebagainya. 
Melanjutkan dari pernyataan sebelumnya bahwa diantara orang Cina adalah saudara dan saling membantu satu dengan yang lainnya. Menurut seorang dalang wayang Poo Tee Hie yang telah berkecimpung lama dalam kehidupan masyarakat Cina, mengatakan bahwa saat ini diantara orang Cina sudah tidak seperti lagi. Dalam hal ini, rasa kepedulian dalam kekeluargaan antar orang Cina telah berkurang, bagi orang Cina yang memiliki kecukupan materi enggan untuk membantu sesamanya. Hal ini terlihat pada beberapa orang Cina yang tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga tampak terlihat tidak terurus terutama pada orang Cina yang sudah lanjut usia. Fenomena ini yang dapat kita sebut sebagai demoralisasi tidak hanya terjadi pada orang Indonesia yang terkenal dengan unggah-ungguh yang sopan, ramah tetapi masyarakat lain dengan budaya yang berbeda juga mengalami hal yang sama. Perubahan ini terjadi karena pada awal kedatangan mereka di suatu tempat masih berperan sebagai perintis atau pionir usaha perekonomian yang mereka bangun. Namun, kini usaha mereka telah berkembang, lingkungan sekitarnya, perkembangan zaman, dan sebagainya dapat mempengaruhi perilaku etnis Tionghoa tersebut.

B. Peran Klenteng Hong San Kiong terhadap keberadaan masyarakat Tionghoa di desa Gudo
1. Klenteng sebagai tempat ibadah dan perayaannya
Puluhan tahun lalu, Rumah Berhala Tionghoa di Gudo sangat kenamaan atau terkenal khususnya didaerah karesidenan Kediri dan Surabaya, dan pada umumnya Jawa Timur yaitu Klenteng Hong San Kiong-Kong Tik Tjun Ong. Sebelum 1941, Klenteng tersebut masih dalam keadaan yang sederhana. Letak Klenteng ini terdapat di pertigaan antara Blimbing, Kediri, Jombang. Di tengah jalan pertigaan ini terdapat sebuah tugu peringatan kemerdekaan (sekarang sudah tidak ada), maksud dari tugu ini adalah untuk memaknai dengan sungguh-sungguh arti dari Keluhuran, kemuliaan, keutamaan, dan kemerdekaan abadi. 
Sejak dulu, tradisi yang dijalankan klenteng termasuk perayaan hari besar konghucu diselenggarakan oleh masyarakat sekitar di Klenteng ini. Sebagai salah satu contoh perayaan tersebut adalah pada tahun sebelum 1930 M, Kongtjo ialah sebutan untuk nenek leluhurnya yang dituakan sering dikarak dengan segala upacaradan keramaian sebagaimana biasanya, ada yang mempertunjukkan jalan dalam jalanan api, lidah ditusuk pedang, naik tangga pedang yang tajam dan sebagainya. “Hu” atau surat tumbal dari Kongtjo, dalamnya berisi tulisan dari huruf-huruf Tionghoa tetapi tidak dapat dibaca, ditulis dari lidah yang berlumuran darah dengan jari-jarinya. Itulah yang kini disebut Hu dan orang-orang banyak yang menempelkan di depan atau belakang pintu rumah yang berfungsi sebagai tumbal keselamatannya. Untuk menambah kemewahan dan keramaian dalam upacara tersebut, maka ditampilkan pula Liong, Barongsai, dan Tjenggee. Namun tradisi ini tidak muncul lagi, hanya beberapa upacara pokok yang disuguhi penampilan Liong dan Barongsai tersebut. Kongtjo tidak lagi muncul dalam arak-arakan karena suatu alasan yaitu menurut orang Cina, Kongtjo mengetahui perkembangan zaman yang sekarang berlangsung maka dari itu karak-karakan dan keramaian hanya dilakukan dalam halaman klenteng. Perubahan ini juga terjadi misal sejak 1940, Kongtjo tidak mau mandi, hanya baru mulai 1952 Kongtjo suka mandi. Air kembang bekas digunakan untuk Kongtjo mandi pun diperebutkan oleh warga sekitar, hal itu dipercaya untuk keselamatan diri dan rumah tangganya.
Kelengkapan peralatan dalam klenteng juga hal yang menjadi perhatian. Namun ternyata seorang pedagang Tionghoa dari Blimbing yang mengerjakan perbaikan dan membangun gedung klenteng Hong San Kiong sehingga terlihat selayaknya sekarang. Banyak sumbangan-sumbangan yang diterima dari tempat yang jauh pula. Renovasi ini dilakukan beberapa bulan hingga akhirnya selesai pada saat Jepang datang berkuasa. Selain sumbangan untuk bangunan pokok, ada sumbangan-sumbangan lain yang berupa meja kursi, lampu, dan juga satu set wayang poo tee hie. Pihak klenteng menghendaki jika peralatan-peralatan yang dimiliki klenteng dapat bermanfaat bagi warga sekitar misalnya dengan meminjamkan peralatan tersebut untuk hajatan acara pernikahan, kematian, dan perayaan lainnya. Akan tetapi tidak sedikit pula orang yang tidak mengembalikan peralatan milik klenteng padahal setiap barang tersebut dilindungi oleh leluhur orang Cina dan memiliki sifat kemurkaan tersendiri.
a. Perayaan Imlek
Setiap tahun Imlek bulan 2 tanggal 22 adalah hari sembahyang peringatan kelahiran Kongtjo, selain itu juga pada bulan 8 tanggal 22 adalah hari peringatan penerimaan wahyu dari Thian. Pada hari-hari tersebut banyak sekali yang berdatangan termasuk dari lura kota. Peringatan ini juga dimeriahkan dengan pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk serta wayang poo tee hie. Seperti tradisi agama lain yaitu melekan; bhs. Jawa (tidak tidur semalaman, orang Cina juga ada yang melakukan hal demikian dengan semalaan di dalam klenteng pada waktu terutama ketika hari sembahyangan Pekgwee 22 yaitu ketika Kongtjo menerima wahyu dari Thian. 
2. Zaman pendudukan Belanda
Keberadaan masyarakat Tionghoa hingga saat ini di Desa Gudo tidak terlepas dari peranan yang dilakukan Klenteng atau yang oleh orang dulu disebut sebagai Rumah Berhala Tionghoa. Disebutkan dalam buku “Sedjarah Gudo” bahwa ketika masa penyerbuan Belanda disebut sebagai clash ke-II atau aksi polisi-polisinan yang terjadi di akhir tahun 1948 bulan Desember. Dari kejadian ini banyak tempat-tempat yang mengalami kerusakan bahkan hancur, tetapi tidak hanya infrastruktur yang rusak korban jiwa pun banyak yang melayang akibat peristiwa ini. Warga tidak dapat melupakan peristiwa tanggal 20 Maret 1949 ketika pesawat tempur milik Belanda dengan leluasanya terbang di atas desa Gudo. Tidak ada perlawanan dari warga sehingga dengan bebasnya Belanda menghamburkan pelor dari senapan mesin kaliber besar serta menjatuhkan beberapa bom peledak. Peristiwa itu lebih tepatnya terjadi pada pukul 7.30 pagi, setelah menyerang Cukir dengan mitrailleur segera menyerang Gudo. Di pertigaan Gudo tepat di depan Klenteng adalah area yang benar-benar diincar oleh Belanda karena dekat pertigaan tersebut terdapat rumah sebagai perkemahan musuhnya. Sering kali pesawat mereka terbang setinggi pohon kelapa untuk menjatuhkan dua buah bom. Setelah itu mereka terbang miring berputar-putar dan mengarahkan senapan mesinnya, hari itu seperti hujan peluru. Peristiwa inilah yang menjadi kecaman pihak luar, begitulah cara mereka menunjukkan kesopanan dan peradaban di akhir kekuasannya. 
Beberapa detik sebelum penyerangan, ada beberapa warga yang beruntung dan berhasil melarikan diri dari rumahnya untuk berlindung di dalam Klenteng. Penyerangan ini memimbulkan korban jiwa sebanyak 2 orang, yang mana orang ini adalah tidak tahu menaung masalah adanya penyerangan itu. Mereka hanya berniat untuk belanja ke pasar tetapi dari arah yang tak diduga meluncurlah serangan Belanda tersebut. Lain lagi dengan warga yang tidak sempat melarikan diri dari rumahnya. Penghuni rumah tersebut terdiri dari suami, istri, dua anaknya, serta ibnya yang sudah tua. Untunglah tidak ada bom yang meledak di dekat rumah mereka, jika benar-benar tejadi hal tersebut maka klenteng juga mengalami goncangan dari penyerangan tersebut.
3. Zaman pendudukan Jepang
Pada masa Jepang datang untuk berkuasa, para tentara mereka melakukan penyisiran ke daerah pedalaman. Warga pribumi dan orang Cina yang berada di Gudo menjadi panik dan mencari perlindungan ke dalam klenteng. Peristiwa ini terus berlangsung hingga warga menginginkan untuk keluar dari Guda, tetapi Kongtjo tidak mengizinkan hal tersebut. Kongtjo memberi petunjuk hanya satu orang yang diperbolehkan keluar dari klenteng dan benar saja orang tersebut memang membawa mobil dan memiliki bahan bakar yang cukup. Dengan mendapatkan izin dari Kongtjo, seperti mendapatkan satu jaminan keselamatan. Garis besar dari peristiwa ini adalah keadaan yang genting dan kacau akhirnya dapat berubah menjadi reda dan pulih kembali bagi meerka yang melindungkan diri dalam Klenteng Hong San Kiong. Tidak banyak informasi yang disebutkan mengenai pendudukan Jepang di Gudo, hanya beberapa gambaran keadaan warga Gudo ketika tentara jepang datang melakukan serangan ke daerah pedalaman.
C. Sumbangsih Klenteng Hong San Kiong terhadap pelestarian kesenian  khususnya di Gudo
1. Wayang Poo Tee Hie
Wayang berasal dari Cina ini telah dibawa oleh pemiliknya (orang Cina) hingga ke Gudo. Tujuan ekonomi tidak semata-mata menjadi fokus utama tetapi memperkenalkan kesenian wayang juga menjadi perhatian perantau Cina tersebut. Wayang Poo Tee Hie dimainkan dengan cara memasukkan tangan sang dalang dan asistennya ke dalam sarung yang berbentuk boneka cina tersebut.
Satu set permainan wayang poo tee hie terdiri dari 5 orang dan 1 dalang. Alat musik yang digunakan antara lain Tambur = Kendang, Terompet dan Yanna, Gembreng, Kong Ah Yan (Yanna yang lebih besar), dan Kecer terdiri dari satu pasang besar dan kecil serta suling. Kekhasan dari pertunjukkan wayang poo tee hie dapat dilihat dari alat musik yang digunakan karena suara yang dihasilkan juga berbeda dengan suara alat musik Indonesia lainnya. 
Menurut sang dalang, cerita yang diangkat dalam pertunjukkan wayang poo tee hie adalah cerita nyata atau asli Cina pada zaman kerajaan. Sedangkan cerita seperti yang ditayangkan di televisi seperti kerasakti, ada beberapa tambahan unsur fiktif yang berfungsi untuk menarik perhatian penonton. Salah satu cerita yang diangkat dalam wayang poo tee hie adalah kehidupan jenderal yang terkenal dalam cerita orang Cina yaitu Jenderal Sie Djin Koei yang dibagi dalam dua bagian kehidupan yaitu waktu muda ketika ia menjadi prajurit dan waktu tua ketika ia telah menjadi jenderal. Cerita yang banyak diangkat ketika negara Cina menghadapi Korea pada masa kerajaan dulu. Satu babak cerita dalam wayang poo tee hie dapat dimainkan dalam waktu kurang lebih satu bulan. Cerita wayang poo tee hie sebenarnya dapat diangkat ke dalam cerita ketoprak, menurut sang dalang karena ceritanya lurus artinya tidak begitu memiliki konflik dan mudah.
2. Barongsai 
Adalah tarian asal Cina yang dimainkan oleh 2 orang dengan menggunakan semacam kain menyerupai singa yang menyelimuti pemainnya. Pemain pertama berada di depan dan bertugas untuk memegang kepala si barongsai sedangkan pemain kedua memegang pinggul pemain pertama dan bertugas sebagai ekor barongsai yang harus mengikuti gerak pemain di depannya. Kain penutup ini dapat bermotif warna merah atau emas yang identik dengan warna tionghoa atau warna lainnya yang dikombinasikan sehingga memberikan kesan menarik. Sebenarnya tarian barongsai dibuat untuk menakuti musuh yang hendak menyerang.
Barongsai terbagi dalam dua jenis yaitu singa utara dan singa selatan. Singa utara terlihat lebih natural, memiliki 4 kaki sedangkan singa selatan memiliki hiasan sisik di badannya, jumlah kaki bervariasi yaitu 2-4 buah, diatas kepalanya terdapat tanduk, geraka singa selatan juga lebih keras dan melonjak-lonjak mengikuti iringan musik gong dan tambur. Gerakan singa utara lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki.
3. Liong 
Adalah boneka naga yang dipertunjukkan dengan mengangkat badan naga dengan dilenggok-lenggokkan sehingga menghasilkan efek seperti ombak yang indah. Tarian liong dimainkan kurang lebih oleh 8 orang dan kebanyakan laki-laki. Ada awalnya tarian liong digunakan untuk menyembuhkan atau mengusir penyakit. Ada juga yang menyebutkan bahwa tarian liong adalah bagian dari kebudayaan pertanian dan digunakan ketika panen. Alasan hewan naga yang digunakan adalah naga dipercaya membawa keberuntungan bagi masyarakat karena kekuatan, martabat, kesuburan yang dimiliki naga tersebut. Selain itu juga naga memiliki penamplan yang gagah dan menakutkan sehingga sangat sesuai digunakan dalam lambang kekaisaran. 
4. Wayang kulit
Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa untuk malam-malam perayaan tertentu Klenteng Hong San Kiong mengadakan pertunjukkan wayang kulit. Mskipun wayang kulit adalah kesenian asli orang Jawa tetapi kesebian tersebut juga telah melekat dan menjadi hal yang harus ada dalam acara tersebut. Jika kembali pada masa lampau ketika Cina memasuki daerah pribumi khususnya Gudo, disitulah kebudayaan asli Jawa berada, maka sebagai rasa hormat dan penghargaan karena kesediaan menerima kaum Tionghoa di wilayah tersebut.
Pagelaran wayang kulit juga diselenggarakan semalam suntuk dan penontonnya juga banyak terutama para penarik becak yang merasa mendapatkan hiburan dari pertunjukkan itu. Tidak sedikit juga kaum Tionghoa yang menyukai kesenian asli Jawa ini dan ikut pula menontonnya.